7 Fakta Kasus Ustaz Gondrong Gandakan Uang dengan Alat Sulap

  • Whatsapp
Video Ustaz Gondorong saat menggandakan uang.
Video Ustaz Gondorong saat menggandakan uang.

Jatengpost.com – Pelaku penggadaan uang, Ustaz Gondrong atau dengan nama asli Hermawan telah terciduk Polres Metro Bekasi. Hasil pemeriksaan pihak kepolisian menemukan fakta bahwa, trik yang digunakan oleh Ustaz Gondrong merupakan penipuan.

Aksi penggadaan uang dengan media kotak, merupakan uang palsu, dengan kotak sebagai media yang mengeluarkan uang. Adalah uang palsu. Selasa (23/3).

Bacaan Lainnya

“Jadi itu trik sulap, kotak itu juga alat sulap dan uangnya itu juga uamg mainan. Tersangka beli alat-alat itu di wilayah Tambun,” ujar Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Pol Hendra Gunawan.

Ustaz Gondorng mencuat ke publik, usai video dengan durasi 12 menit beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, Ustaz Gondrong memamerkan praktek penggadaan uang, dengan media jenglot dan kotak hitam.

7 Fakta Kasus Penggandaan Uang

Fakta 1: Video viral aksi hermawan direkam pada awal Maret 2021.

Fakta 2: Polisi memastikan video penggadaan uang oleh Ustaz Gondrong hanya sulap.

Fakta 3: Hermawan mengaku uang tersebut sudah dibakar oleh istrinya yang berinisial FN.

Fakta 4: Polisi juga mengamankan istri dengan inisial FN.

Fakta 5: Bayaran pasien saat datang ke Ustaz Gondorong mulai dari Rp 50 ribu.

Fakta 6: Hermawan dijerat pasal berlapis dan terancam 15 tahun penjara.

Fakta 7: Polisi amankan barang bukti berupa Jenglot dan kota hitam.

Saat ini tahap penyelidikan terus berlanjut, Polisi membuka peluang jika Herman bisa dijerat dengan pasal 378 tentang penipuan, serta penggandaan uang palsu.

Selian itu, ternyata Herman memiliki riwayat pedana dengan melakukan kekerasan seksual pada anak dibawah umur. Lantas kasus tersebut mencuat, lantaran pihak keluarga yang melapor pada Senin, 22 Maret 2021.

Aksi herman melakukan tindak pidana seksual terjadi pada 25 Januari 2017.

”Saat itu, korban bernama Novi Trianti masih berusia 15 tahun,” ucap Kombes Pol Hendra Gunawan, Selasa (23/3/2021).

Untuk itu, Herman dijerat Pasal 81 juncto Pasal 76D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan PP Pengganti UU RI Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.

Pos terkait