NewsPolitik & Hukum

Ada Apa Dengan Prabowo? “Pembatalan” Deklarasi Capres 11 April

Pembatalan deklarasi Prabowo Subianto menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Pendukung setia Prabowo yang sangat menampakan diri untuk menyaksikan deklarasi tokohnya harus sirna seketika.

Hal ini di tegaskan oleh Prabowo sendiri mengenai tanggal 11 April yang akan diadakan Rakornas Partai Gerindra dan deklarasi dirinya sebagai Capres.

“Tanggal 11 belum deklarasi, rapat kordinasi nasional (rakornas). Apel keadilan nasional. Dan intern (Gerindra) maaf tidak ada media,” ucap Prabowo di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Kabar 11 April akan adanya deklarasi sendiri sebelumnya telah di benarkan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

Menurut Dasco, deklarasi akan dilakukan pada 11 April mendatang, tetapi ia belum bisa memastikan lokasi deklarasinya.

“Betul, rencananya begitu,” Ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (27/3/2018).

Pernyataan Prabowo pun berlanjut kepada alasannya enggan terburu-buru untuk deklarasi.

“Deklarasi itu kalau ada tiket. Kan ini belum ada tiket. Dan juga belum tentu, situasi berkembang ya kita berpikir positif tenang sabar, sabarlah. Kita cari yang terbaik ya,” ujar Prabowo.

Akibat sikap tersebut banyak masyarakat yang mempertanyakan kesiapan Prabowo dalam konstestasi akbar 2019 nanti. Namun dilihat dari syarat pencalonan, Gerindra dan PKS cukup menghantarkan Prabowo menjadi calon.

Berikut ungkapan Toto Sugiarto, pengamat politik Universitas Paramadhina.

“Selama ini PKS tidak pernah menunjukkan keinginan bergabung dengan koalisi pemerintah. Mungkin merasa tidak sesuai secara ideologi. Pada sisi lain, selama ini PKS banyak bekerja sama dengan Gerindra. Yang paling nyata di Pilkada DKI,” tutur Toto.

Jika digabung dengan kursi PKS, yang jumlahnya 40, Prabowo bisa melenggang ke kancah Pilpres 2019 dengan 113 kursi, lebih 1 kursi dari syarat Presidential Threshold.