Peristiwa

Dipersulit Beli Solar, Petani Boyolali Protes SPBU

Jatengpost.com – Lebih dari sepekan, petani Boyolali tidak bisa bekerja akibat mesin pertanian seperti traktor atau alat pembajak sawah tidak mendapatkan solar dari SPBU.

Akibatnya, puluhan petani penyedia jasa penyewaan mesin pertanian Desa Karangduren, Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, melakukan protes ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) setempat, Senin (28/19)

Dengan membawa mesin pertanian, seperti traktor atau alat pembajak sawah dan perontok padi, mendatangi SPBU Karangduren Sawit Boyolali, puluhan petani meminta kejelasan manajemen SPBU Karangduren, karena sudah hampir sepekan tidak bisa bekerja akibat kesulitan mendapatkan solar.

Menurut salah seorang petani asal Desa Karangduren, Warjio (58), para petani sudah sepekan ini kesulitan mendapatkan solar untuk mengoperasikan mesin pertanian. Padahal, katanya, permintaan untuk pembajakan sawah musim hujan ini cukup tinggi.

“Kami hampir setiap hari menerima pesanan jasa membajak sawah milik petani. Namun, petani kesulitan untuk mendapatkan solar sehingga mereka tidak bisa bekerja,” katanya.

Warjio mengaku rata-rata membutuhkan solar untuk pengoperasikan mesin pertanian antara 8 liter hingga 9 liter.

Namun, para petani yang membeli solar di SPBU setempat selama sepekan ini tidak dilayani. Petugas SPBU menyatakan tidak menerima pembelian solar dari petani dalam jumlah berapa pun.

Pemeriksaan BPK

Padahal, katanya, para petani penggarap saat ini sudah menebar benih di sawah sehingga akibat ketiadaan solar, petani tidak tanam karena lahan belum siap. Dampaknya beberapa sawah yang siap tanam harus tertunda pengerjaannya.

Kepala Desa Karangduren, Sawit, Hariyanto, mengatakan peristiwa tersebut terjadi salah paham antara pembajak sawah dengan petugas SPBU. Pembajak sawah yang ingin membeli solar wajib membawa surat pengantar asal desa.

Namun, pihaknya bersama para petani kemudian melakukan dialog agar dapat kembali membeli solar di SPBU.

Romadhon, pengawas SPBU Karangduren, mengatakan pihaknya tidak melayani pembelian solar untuk petani karena masih ada pemeriksaan dari BPK RI.

“Selama pemeriksaan itu, kami tidak berani melayani penjualan solar untuk petani,” kata Romadhon.

Namun, setelah ada aksi dan dilakukan dialog dengan pimpinan, diputuskan SPBU dapat melayani pembelian solar untuk petani dengan syarat ada surat rekomendasi dari desa atau kelurahan setempat.

Petani diizinkan membeli solar untuk membajak sawah maksimal 40 liter per hari. Warjio (58), para petani sudah sepekan ini kesulitan mendapatkan solar untuk mengoperasikan mesin pertanian. Padahal, katanya, permintaan untuk pembajakan sawah musim hujan ini cukup tinggi.

“Kami hampir setiap hari menerima pesanan jasa membajak sawah milik petani. Namun, petani kesulitan untuk mendapatkan solar sehingga mereka tidak bisa bekerja,” katanya.

Warjio mengaku rata-rata membutuhkan solar untuk pengoperasikan mesin pertanian antara 8 liter hingga 9 liter.

Namun, para petani yang membeli solar di SPBU setempat selama sepekan ini tidak dilayani. Petugas SPBU menyatakan tidak menerima pembelian solar dari petani dalam jumlah berapa pun. [Antara.com]