Sejarah

Strategi Ken Arok dari Rakyat Biasa Menjadi Pemegang Tahta Berkat Kaum Agamawan

Jatengpost.com- Politik identitas lazim digunakan di negara manapun. Itulah statmen yang dikeluarkan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono. Pernyataan inipun sontak menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat. Mengingat berbagai isu SARA dijadikan tunggangan politik dewasa ini.

Bagi golongan yang kontra dengan strategi politik ini, mereka menganggap jika politik identitas akan menciderai sistem demokrasi, yang mencoba menyampingkan sekat-sekat golongan dalam perpolitikan. Namun, bagi golongan yang pro dengan pernyataan tersebut, memang tidak dipungkiri politik identitas sudah lazim terjadi dimanapun. Bahkan dalam perpolitikan tanah air sebelum Indonesia lahir.

Politik identitas masa kerajaan di Nusantara

Jauh hari, sebelum Bung Karno membacakan teks proklamasi, sebelum bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan di tanah airnya sendiri, strategi politik identitas sudah digunakan oleh para politisi di negeri ini. Politik identitas khususnya terkait persoalan agama, memang menjadi senjata ampuh untuk mendapatkan kekuasaan dalam sejarah kerajaan di Nusantara.

Ialah Ken Arok, seorang rakyat biasa, mantan begal yang kemudian menduduki singgahsana tertinggi di kerajaan Kediri, dan kemudian mendirikan Kerajaan Singasari. Kelihaian Ken Arok dalam memanfaatkan situasi, menjadikan namanya selalu melekat di hati para politisi dalam bermain strategi.

Kisah sepak terjang Ken Arok dalam perpolitikan bermula saat situasi Kerajaan Kediri dipimpin oleh seorang Raja bernama Sri Maharaja Kertajaya (1194-1222). Ialah raja terakhir di Kerajaan Kediri sebelum akhirnya lahir Kerajaan Singasari.

Bukti otentik bahwa Kertajaya merupakan raja terakhir Kediri tertuang dalam Prasasti Galunggung yang berangka tahun 1194, Prasasti Kamulan (1194), Prasasti Palah (1197), dan Prasasti Wates Kulon (1205). Tidak hanya itu, kitab legendaris Nusantara, Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada zaman Majapahit juga mencatat kekuasaan Kertajaya.

Dalam berbagai literasi disebutkan, jika Raja Kertajaya adalah seorang yang sangat sakti. Namun, karena kesaktiannya ini, ia mulai menyombongkan diri dengan menganggap dirinya merupakan titisan dari Dewa. Kaum Agamawan dari Hindu dan Budha di  lingkungan kerajaan pun diwajibkan tunduk menyembahnya. Jika mereka menolak, maka hukuman berat sampai dibunuh akan diterimanya.

Melihat sikap congkak dari Sang Raja, kaum Agamawan dari kasta Brahmana akhirnya menyingkir dari istana dan mengusung kekuatan dengan rakyat, mereka menyebarkan pemahaman jika apa yang dilakukan oleh Raja Kediri tersebut salah.

Ken Arok “memanfaatkan” Agamawan untuk menduduki kursi tertinggi Kerajaan Kediri

Di tempat lain, di wilayah sebelah timur Daha, Ibu Kota Kediri, tepatnya di wilayah Tumapel, sebuah Kadipaten yang masih dalam kekuasaan Kediri, gejolak perpolitikan pun tidak kalah gaduhnya. Ken Arok, seorang rakyat biasa mantan begal mengabdikan diri menjadi seorang prajurit.

Dengan kelihaiannya, akhirnya ia bisa merebut kekuasaan dengan membunuh Tunggul Ametung (penguasa Tumapel saat itu) dan merebut Ken Dedes (Istri dari Tunggul Ametung). Hingga Akhirnya Ken Arok mendeklarasikan diri menjadi penguasa wilayah tersebut.

Pecahnya kekuatan politik di Kerajaan Kediri, pasca menyingkirnya kaum Brahmana dari kerajaan, ditangkap oleh Ken Arok sebagai peluang meraih tahta tertinggi kerajaan terbesar di Pulau Jawa kala itu. Melalui komunikasi kepada para Brahmana yang “terasingkan”, dan dengan strategi agitasi dan propaganda kepada rakyat, Ken Arok pun berhasil menyusun kekuatan untuk menjadikan Kediri menjadi kerajaan yang diharapkan semua golongan.

Dengan tawaran posisi strategis di Kerajaan Kediri, Kaum Brahmana pun akhirnya sepakat mendukung Ken Arok untuk merebut Kerajaan Kediri dari Kertajaya. Bahkan, Ken Arok mendapatkan gelar Batara Guru oleh para Brahmana. Gelar ini juga yang menjadikan elektabilitas Ken Arok di mata rakyat semakin tinggi. Kekuatan pun semakin kokoh.

Kekuatan penuh Ken Arok dengan dukungan dari para Brahmana dan rakyat Tumapel pun terdengar oleh Kertajaya. Melihat gelagat akan terjadinya makar oleh Ken Arok, Kertajaya pun memerintahkan pasukannya untuk menyerang Tumapel dengan kekuatan penuh.

Namun, dukungan dari rakyat Tumapel kepada Ken Arok begitu kuat, dengan semangat “jihad” dari rakyat yang dikobarkan oleh para Brahmana, membuat serangan demi serangan Kerajaan Kediri berhasil dipatahkan. Bahkan, kini kekuatan berbalik arah. Ken Arok dengan kekuatan penuh berbalik menyerang Kerajaan Kediri. Dalam penyerangan inipun Kertajaya terbunuh. Kini Kerajaan Kediri berada pada nafas terakhirnya.

Ken Arok yang berhasil menguasai Kediri akhirnya mendirikan Kerajaan Singasari, dan menjadikan Kediri sebagai wilayah di bawah kekuasaannya. Untuk menghindari balas dendam dari trah Kertajaya, Ken Arok kemudian menunjuk Jayasbaha, anak dari Kertajaya untuk menjadi pemegang kekuasaan wilayah Kediri.

Namun ternyata politik tidak sejinak yang dibayangkan Ken Arok. Drama balas dendam selalu ada dalam panggung politik, sama halnya dengan sikap balas jasa dalam perpolitikan. Meskipun Jayasbaha anak dari Kertajaya tidak melakukan aksi balas dendam kepada Ken Arok, namun generasi selanjutnya, Sastrayaja anak dari Jayasbaha yang memimpin Kediri pada tahun 1258, muncul kembali benih-benih balas dendam tersebut.

Hingga akhirnya, saat Kediri dipimpin oleh cicit dari Kertajaya, Jayakatwang (Anak Sastrajaya dan cucu dari Jayasbaha), tragedi balas dendam pun terjadi. Jayakatwang berhasil menyerang Singasari yang kala itu dipimpin oleh Kartanegara dari trah Ken Arok. Jayakatwang pun berhasil menguasai Singasari.

Namun drama balas dendam belum berakhir. Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Kartanegara akhirnya menyerang Jayakatwang dengan bantuan tentara Mongol. Kini kekuatan dan kekuasaan berada di tangan Raden Wijaya. Dengan strategi liciknya, Raden Wijaya pun berhasil mencundangi pasukan Mongol dengan mengusirnya dari Nusantara. Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293, dan menjadi Raja pertama Majapahit.