Kriminal

Dana Desa Menjadi Sumber Kasus Korupsi Terbanyak, Begini 12 Modusnya

Penyelewengan Dana Desa

Jatengpost.com- Pemberian dana desa menjadi dilema di berbagai kalangan. Mulai dari penggunaan dana desa yang kurang tepat, sampai menjadi ladang korupsi di wilayah daerah, menjadikan dana desa mengalami berbagai polemik tersendiri.

Menurut KPK, pada tahun 2017 dana desa menjadi sumber munculnya kasus korupsi terbanyak di Indonesia. Sepanjang 2017 tercatat 900 kepala desa bermasalah dengan hukum karena masalah dana desa. Sebagian besar diantaranya mereka terpaksa menghadapi jeruji besi akibat penyalahgunaan dana desa.

Jumlah tersebut disinyalir bakal terus meningkat mengingat sulitnya mengawasi 74 ribu lebih desa di seluruh Indonesia. Namun di sisi lain, dana desa juga menjadi salah satu sumber progresivitas pembangunan di wilayah pedesaan.

Dari beberapa kasus penyalahgunaan dana desa yang berhasil diungkap, Indonesian Coruption Watch (ICW) mencatat ada 12 modus yang dilakukan para perangkat desa untuk menyalahgunakan dana desa. Berikut 12 modus yang biasa digunakan.

  1. Membuat rancangan anggaran biaya di atas harga pasar. Ini bisa diantisipasi jika pengadaan dilakukan secara terbuka dan menggunakan potensi lokal desa. Misalnya, pengadaan bahan bangunan di toko bangunan yang ada di desa sehingga bisa melakukan cek bersama mengenai kepastian biaya atau harga-harga barang yang dibutuhkan.
  1. Mempertanggungjawabkan pembiayaan bangunan fisik dengan dana desa padahal proyek tersebut bersumber dari sumber lain. Modus ini hanya bisa terlihat jika pengawas memahami alokasi pendanaan oleh desa. Modus seperti ini banyak dilakukan karea relatif tersembunyi. Karena itulah APBDes arus terbuka agar seluruh warga bisa melakukan pengawasan atasnya.
  1. Meminjam sementara dana desa untuk kepentingan pribadi namun tidak dikembalikan. Ini juga sangat banyak terjadi, dari mulai kepentingan pribadi hingga untuk membayar biaya S2. Budaya ewuh-prakewuh di desa menjadi salahsatu penghamat pada kasus seperti ini sehingga sulit di antisipasi.
  1. Pungutan atau pemotongan dana desa oleh oknum pejabat kecamatan atau kabupaten. Ini jua banyak terjadi dengan beragam alasan. Perangkat desa tak boleh ragu untuk melaporkan kasus seperti ini karena desa-lah yang paling dirugikan.
  1. Membuat perjalanan dinas fiktif kepala desa dan jajarannya. Banyak kasus perjalanan untuk pelatihan dan sebagainya ternyata lebih ditujukan utuk pelesiran saja.
  1. Pengelembungan (mark up) pembayaran honorarium perangkat desa. Jika modus ini lolos maka para perangkat desa yang honornya digelembungkan seharusnya melaporkan kasus seperti ini. Soalnya jika tidak, itu sama saja mereka dianggap mencicipi uang haram itu
  1. Pengelembungan (mark up) pembayaran alat tulis kantor. Ini bia dilihat secara fisik tetapi harus pula paham apa saja alokasi yang telah disusun.
  1. Memungut pajak atau retribusi desa namun hasil pungutan tidak disetorkan ke kas desa atau kantor pajak. Pengawas harus memahami alur dana menyangkut pendapatan dari sektor pajak ini.
  2. Pembelian inventaris kantor dengan dana desa namun peruntukkan secara pribadi. Lagi-lagi ewuh prakewuh menjadi salahsatu penghambat kasus seperti ini sehingga seringkali terjadi pembiaran
  1. Pemangkasan anggaran publik kemudian dialokasikan untuk kepentingan perangkat desa. Publik harus tahu alokasi pendanaan dana des agar kasus ini tidak perlu terjadi
  1. Melakukan permainan (kongkalingkong) dalam proyek yang didanai dana desa. Bisa ditelusuri sejak dilakukannya Musyawarah Desa dan aturan mengenai larangan menggunakan jasa kontraktor dari luar.
  1. Membuat kegiatan atau proyek fiktif yang dananya dibebankan dari dana desa.

Berbagai modus ini sebenarnya bisa dicegah jika masyarakat desa ikut aktif mengawasi penggunaan dana desa. Selain itu, adanya transparansi penggunaan anggaran oleh perangkat desa seharusnya dilakukan dalam skala waktu yang berjangka.