Kritik Aturan Baru Vaksin Berbayar, Faisal Basri: Ini Biadab!

  • Whatsapp
Kritik Aturan Baru Vaksin Berbayar, Faisal Basri: Ini Biadab!

Jatengpost.comEkonom Faisal Basri mengkritik keras peraturan baru yang mengizinkan kegiatan vaksinasi gotong royong individu berbayar.

Menurut Faisal, kebijakan bayar pada vaksinasi merupakan tindakan biadab, pasalnya membiarkan BUMN berbisnis dengan rakyat yang tengah kesulitan seperti saat ini.

Bacaan Lainnya

“Rakyat disuruh gotong royong, untuk mempercepat herd immunity, BUMN dibiarkan berbisnis, ini kan biadab. Apalagi kata paling pantas untuk itu,” katanya, dilansir dari detikcom, Minggu (11/7).

Lebih lanjut menurut Faisal, saat ini pasokan vaksin terbatas. Sementara banyak masyarakat yang membutuhkan vaksin tersebut.

“Vaksin ini pasokannya terbatas, kalau seluruh rakyat Indonesia sudah divaksin oleh pemerintah secara gratis, ada yang vaksinasi 3 kali ya silakan barulah, barulah bisa ditangani secara bisnis,” katanya.

Faisal Basri pun menambahkan agar pemerintah lebih fokus dalam percepat vaksinasi dengan menambahkan titik pelayanan.

Sementara soal vaksin berbayar, Faisal menyebut tidak sepakat jika hal itu bertujuan mempercepat vaksinasi di masyarakat.

“Tidak benar, kalau ingin mempercepat jelas kok, diintegrasikan ayo sehingga outlet-outlet vaksinasi semakin banyak dan semakin mudah dijangkau. Ini namanya bukan gotong royong, kalau gotong royong orang kaya membantu orang miskin, orang miskinnya nggak punya uang, dia gotong royong tenaga. Jadi gotong royong pun dikorupsi,” paparnya.

Selain itu, Faisal juga bilang, vaksinasi ini akan melukai perasaan masyarakat yang tidak mampu. Sebab, orang kaya bisa mendapat vaksin lebih cepat. Padahal, vaksinasi seharusnya diberikan berdasarkan prioritas.

“Misal saya orang kaya, nggak mau antre, saya ke Kimia Farma deh, kan vaksinasi ini dibagikan dengan prioritas, prioritas itu berdasarkan risiko. Kalau Kimia Farma nggak, siapa yang bisa bayar dia yang dapat. Teriris nggak hati rakyat yang nggak punya uang,” ujarnya.

“Bansos aja Juli, Agustus cuma Rp 300 ribu per keluarga per bulan, nggak sanggup mereka bayar vaksin itu,” ungkapnya.

Pos terkait