Sejarahsosok

Mari Akrab dengan Pemikiran Paulo Freire, Education Is Freedom

Paulo Freire, ia terlahir di sebuah kota besar, metropolitan, Recife di Brazil, 19 September 1921. Freire kecil dan masa remajanya nampak seperti anak muda biasanya. Sampai peristiwa 1929 melumpuhkan perekonomian masyarakat menengah kebawah di Brazil.

Freire menemukan dirinya, dari banyak tragedi kemiskinan 1929 tersebut. Ia menyaksikan betapa akses pendidikan, untuk menjadi terdidik di sekolah, dihuni oleh yang punya “duit”. Geram, Freire kecil tak ingin mengakhiri study nya karena tak punya biaya.

Pemikiran Poulo Freire
via istimewa

Sampai pada setiap pulang sekolah, Freire kecil meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Portugis. Ketertarikannya pada bahasa Portugis akan terus melekat, bahkan sampai ia menjadi Doktor.

Empati membulat, pemikiran Poulo Freire sangat tak membenarkan sistem pendidikan tersebut, menurutnya pendidikan  berlaku untuk siapapun, tanpa apapun. Education is Freedom, pendidikan bebas, bebas di masuki manusia manapun yang sadar dirinya ingin terdidik.

Semangat itu dibawanya, terus, sampai pada 1943. Pemikiran Paulo Freire semakin kompleks. Freire remaja menjadi mahasiswa di Universitas Recife sebagai Mahasiswa Hukum. Tak diketahui penyebab pasti ia menjadi Mahasiswa Hukum, diketahui selama itu jua ia banyak melahap bacaan filsafat dan psikologi.

Pemikiran Poulo Freire semakin matang, temuan selanjutnya setelah daripada pendidikan untuk siapapun, Freire melihat adanya kurikulum pendidikan yang ia sebut sebagai pendidikan “Gaya Bank”. Selama ini masyarakat di bisukan, diberi pemahaman banyak, tapi tak tau untuk apa fungsi dari ilmu yang ia pahami disekolah. Dipaksa tunduk pada sistem yang ada, keuatan politik, dan kekuasaan.

Freire mencontohkan keadaan seseorang saat sedang naik gunung, ia katakan subtansialnya kira-kira begini. Saat ada seorang pelajar naik gunung, yang pelajar tersebut sadari ia sedang berada di atas gunung, faham ini salah menurut Freire, faham tersebut tak membangkitkan refleksi atau kesadaran seorang pelajar dengan realita, dengan apa yang ia temui disekitar.

Meskinya saat seorang pelajar berada di atas gunung seperti pada kejadian diatas, ia menganut faham dalam fikiran, ia sedang bersama alam, refleksi itu ada, menuntun fikiran seorang pelajar untuk menjadikan alam salah satunya menjadi bagian dari teman dia hidup di dunia. Alam akan tetap lestari, tanpa sampah, ia bisa membawa pulang tanaman yang ia butuhkan jika mau.

Pemikiran Poulo Freire
via istimewa

Konsep solusi tersebut ia namai pendidikan “HadapMasalah”. Freire ingin sekali pendidikan menekankan pada subjek atau pelajar itu sendiri, pembalajaran yang membentuk nalar kesadaran seorang pelajar untuk mampu membebaskan dirinya dengan belenggu yang mengikat. Seperti perilaku penindasan, ekonomi, politik, dan budaya.

Dari pembekalan kesadaran itu, seorang pelajar akan bergelut, bergumul atas realitas yang ada itu, sehingga diharapkan mampu menghasilkan suatu tingkah laku kritis terhadap seorang pelajar.

Pemikiran Paulo Freire membagi tingkatan kesadaran menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Kesadaran Intransitif

Kesadaran dasar, pada titik awal ini, manusia hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam ketertindasan.

2. Kesadaran Semi Intransitif atau Kesadaran Magis

Saat ini ia tahu, ia hidup bersama dalam penindasan kaum yang menindas. Ia pasrah, ia bergantung hidup pada aturan yang diterapkan penindas. Merasa tak punya kuasa, tak tau harus apa.

3. Kesadaran naif

Pada saat ini seorang terpelajar mampu mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, seperti: mengidentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi yang kuat, dan suka berdebat, bukan dialog.

4. Kesadaran Kritis Transitif

Puncak kesadarannya ialah, seorang pelajar mampu menafsirkan masalah-masalah secara dalam, percaya diri dalam diskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkatan ini orang mampu merefleksikan dan melihat hubungan sebab akibat.

pemikiran paulo freire
via istimewa

Itulah solusi Freire, perihal pembentukan pola fikir karena pendidikan. Namun, ide itu masih terus tersimpan rapi dalam harapan, ia belum memulai untuk menunjukannya, menurut hemat kami, karena ia belum memiliki kuasa kala itu, ya masih sebagai mahasiswa.

Tibalah Freire selesai dengan study hukumnya, meski ia lulus dari jurusan hukum, diketahui ia tak pernah terjun sebagai praktisi hukum. Freire memilih menjadi guru, mengajar sebagai Guru Bahasa Portugis.

Satu tahun dengan rutinitas mengajar, harapan yang membendung dalam benak Freire untuk sistem pendidikan yang lebih berkemajuan dijawab oleh Tuhan. Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari Dinas Sosial di Negara bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife).

Selama bekerja itu, terutama ketika bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran yang non-ortodoks, yang belakangan dianggap sebagai teologi pembebasan. Perlu dicatat bahwa di Brasil pada saat itu, melek huruf merupakan syarat untuk ikut memilih dalam pemilu.

Pada 1961, ia diangkat sebagai direktur dari departemen Perluasan Budaya dari Universitas Recife, dan pada 1962 ia mendapatkan kesempatan pertama untuk menerapkan secara luas teori-teorinya, ketika 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Sebagai tanggapan terhadap eksperimen ini, pemerintah Brasil menyetujui dibentuknya ribuan lingkaran budaya di seluruh negeri.

Pemikiran Poulo Freire teruji, menggebrak dunia pendidikan kala itu, pendidikan untuk siapa saja, benar-benar mampu diterapkan sesuai ekspetasi dirinya.

Namun, pada 1964, sebuah kudeta militer mengakhiri upaya itu, dan menyebabkan Freire dipenjarakan selama 70 hari atas tuduhan menjadi pengkhianat, mencerdaskan masyarakat berarti mengajak untuk menolak ditindas, nasib malang memang namun belum berakhir.

Hari ke 71 ia mengasingkan diri untuk waktu singkat di Bolivia, Freire bekerja di Chili selama lima tahun untuk Gerakan Pembaruan Agraria Demokratis Kristen. Pada 1967, Freire menerbitkan bukunya yang pertama, Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan.

Pemikiran Paulo Freire
via istimewa

Buku ini disambut dengan baik, dan Freire ditawari jabatan sebagai profesor tamu di Harvard pada 1969. Tahun sebelumnya, ia menulis bukunya yang paling terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed), yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada 1970.

Buku itu baru diterbitkan di Brasil pada 1974 (karena perseteruan politik antara serangkaian pemerintahan diktatur militer yang otoriter dengan Freire yang Kristen sosialis ketika Jenderal Ernesto Geiselmengambil alih kekuasaan di Brasil dan memulai proses liberalisasi.

Setelah setahun di Cambridge, Freire pindah ke Jenewa, Swiss untuk bekerja sebagai penasihat pendidikan khusus di Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Pada masa itu Freire bertindak sebagai penasihat untuk pembaruan pendidikan di bekas koloni-koloni Portugis di Afrika, khususnya Guinea Bissau dan Mozambik.

Pada 1979, ia dapat kembali ke Brasil, dan pindah kembali ke sana pada 1980. Freire bergabung dengan Partai Buruh (Brasil(PT) di kota São Paulo, dan bertindak sebagai penyedia untuk proyek melek huruf dewasa dari 1980 hingga 1986. Ketika PT menang dalam pemilu-pemilu munisipal pada 1986, Freire diangkat menjadi Sekretaris Pendidikan untuk São Paulo.

Pemikiran Paulo Freire
Via Istimewa

Pergulatan panjang selama puluhan tahun, perilaku menindas yang menimpa dirinya juga. Akhirnya pada 1991, didirikanlah Institut Paulo Freire di São Paulo untuk memperluas dan menguraikan teori-teorinya tentang pendidikan rakyat. Institut ini menyimpan semua arsip Freire.

Freire sukses menanamkan sebuah haluan perjuangan dalam pendidikan, Institute Paulo Freire yang ia dirikan dan aktif di dalamnya selama beberapa tahun. Freire tutup usia pada 2 Mei 1997.