Gaya hidup

Menurut Studi, Orang yang Sedikit Ilmu Biasanya Banyak Bicara

tong kosong nyaring bunyinya

Jatengpost.com – Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Tentu kita masih ingat dengan pribahasa yang satu ini. Pribahasa yang kerap keluar di soal-soal bahasa Indonesia ini memiliki makna jika biasanya, orang yang banyak bicara, sedikit pengetahuan atau ilmunya.

Selama ini kita meyakini idiom tersebut hanya sebagai pribahasa yang kebenarannya belum teruji secara ilmiah. Apakah benar orang yang banyak bicara itu identik dengan pengetahuan yang sempit?

Untuk menjawab hal ini, beberapa ilmuan di Amerika Serikat melakukan riset dengan metode polling. Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Pew Research Center dan diterbitkan di jurnal Nature ini mencoba menjawab kebenaran pribahasa “Tong Kosong Nyaring Bunyinya.”

Untuk menguji pengetahuan responden, peneliti menggunakan makanan yang telah dimodifikasi genetik. Makanan ini, pada dasarnya terbuat dari bahan yang aman bahkan bermanfaat bagi tubuh manusia.

Namun, ternyata hasil penelitian menunjukkan jika hanya 37% masyarakat Amerika menganggap makanan tersebut aman. Selebihnya menganggap makanan tersebut berbahaya karena melihat dari bentuknya tanpa mencari tahu manfaat kandungannya.

Yang lebih mengejutkan lagi, para responden yang percaya jika makanan tersebut tidak aman ternyata memiliki pengetahuan literasi yang sangat minim. Mereka cenderung mudah percaya dengan informasi sekilas tanpa melakukan cek dan ricek dengan informasi yang ia terima.

Pendapat mereka sering bertentangan dengan fakta ilmiah atau data

Uniknya, mereka yang memiliki pengetahuan literasi rendah ternyata cenderung memiliki pendapat yang bertentangan dengan fakta ilmiah. Meskipun pendapat mereka bertentangan dengan fakta ilmiah dan hanya berasal dari asumsi belaka, mereka cenderung ngotot menganggap pendapatnya lebih benar.

Para peneliti kemudian mengelompokkan mereka dengan sebutan masyarakat penderita gejala “Ilusion of Knowledge.” atau mereka yang percaya dengan pengetahuan yang tidak nyata.

Yang tidak kalah ekstrem dari orang semacam ini, ialah mereka cenderung lebih suka mengomentari sesuatu yang padahal dirinya tidak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Namun, ia menganggap jika dirinya lebih tahu dari para akademisi atau fakta ilmiah.

Mencuatnya fenomena “orang bodoh” yang menganggap dirinya pintar dengan mengomentari hal-hal yang ia tidak memiliki keilmuannya juga sebelumnya ramai diperbincangkan.

Salah satu buku berjudul The Death of Expertise, atau Matinya Kepakaran yang ditulis oleh Tom Nicholls, menyinggung akan makin banyaknya orang yang berbicara pada hal-hal bukan ahlinya. Sementara para pakar mulai dibungkam oleh informasi-informasi yang belum teruji kebenarannya.