Sosial

Soal Penghapusan Istilah Kafir, FPI Anggap Menentang Tuhan, Ma’ruf Amin Itu demi Persatuan

Penghapusan Istilah Kafir

Jatengpost.com – Usulan Nahdlatul Ulama (NU) untuk menghapuskan kata kafir dalam menyebutkan selain muslim menuai pro dan kontra di masyarakat. Banyak kalangan yang mengapresiasi keberanian NU dalam mengusulkan hal tersebut, namun tidak sedikit juga yang menolak bahkan mengecam usulan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Kota Banjar pada 27-1 Maret 2019.

FPI sebagai salah satu organisasi keagamaan di Indonesia, angkat bicara mengenai usulan tersebut. Menurut Front Pembela Islam, usulan dari Nahdlatul Ulama merupakan tindakan yang bertentangan dengan Al Qur’an.

Juru bicara Front Pembela Islam (FPI), Munarman, menyebut sebutan kafir sudah lahir di dunia sejak ribuan tahun lalu, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Selama itu juga, kata dia, tidak pernah ada yang mempermasalahkan istilah tersebut. “Kok tiba-tiba bagi sebagian kecil hamba Allah yang membahas, malah menempatkan diri sebagai penentang Allah. Berani sekali mereka,” kata dia.

Munarman menambahkan jika alasan usulan pengahpusan kata kafir tidaklah masuka akal. Sebab, menurutnya, tidak ada tendensi diskriminasi maupun ujaran kebencian dalam istilah tersebut.

“Kata dan konsep kafir itu bukan ujaran kebencian ataupun diskriminasi, itu istilah yang diberikan Allah kepada manusia yang menutup diri dari kebenaran Islam yang dibawa melalui baginda Rasulullah SAW,” ujar Munarman

Sementara itu, calon wakil Presiden nomor urut 02, Ma’ruf Amin menganggap usulan yang dilakukan oleh PBNU merupakan tindakan yang tepat. Hal tersebut, menurutnya demi keutuhan bangsa.

“Ya ini supaya kita menjaga keutuhan. Sehingga tidak menggunakan kata-kata yang seperti menjauhkan, diskriminasi,” ujar Ma’ruf lewat keterangan tertulis pada Sabtu, 2 Maret 2019.

Ma’ruf mengaku tidak mengikuti langsung Bahtsul Masail tersebut lantaran saat itu tengah melakukan safari politik ke beberapa daerah di Jawa Barat untuk menyerap aspirasi masyarakat. “Saya sendiri tidak ikut sidangnya karena terus muter-muter,” ujar Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Namun, menurut dia, ketika para ulama telah sepakat untuk tidak menggunakan istilah kafir bagi nonmuslim di Indonesia berarti hal itu memang diperlukan untuk menjaga keutuhan bangsa.

“Kalau itu sudah disepakati ulama berarti ada hal yang diperlukan pada saat tertentu untuk menjaga keutuhan bangsa, istilah-istilah yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan itu untuk dihindari,” kata Ketua Umum MUI ini.