Pendidikan

Terjadi Banyak Kemiripan Pada Penelitiannya, Rektor Unnes Diduga Lakukan Plagiat Skripsi Mahasiswa

Jatengpost.com- Civitas akademik Universitas Negeri Semarang (Unnes) digoncang dugaan isu seputar plagiat (penjiplakan) yang diduga dilakukan oleh Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman. Plagiat terjadi pada artikel ilmiah yang berjudul sama ‘Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas’.

Dugaan plagiat mencuat pada judul karya ilmiah yang sama itu antara milik Prof Fathur Rokhman (2004) dengan mantan mahasiswanya bernama Anif Rida (2003). Informasi itu telah beredar di sejumlah media daring (online).

Kepala Humas Unnes Hendi Pertama mengatakan, informasi berita terkait penjiplakan karya ilmiah orang lain yang dilakukan Prof Fathur Rokhman adalah spekulasi.

“Karena harusnya ada penyelidikan dan investigasi dari Kementerian atau Inspektorat Jenderal. Aduan dari masyarakat juga belum ada,” kata Hendi, Senin (2/7/2018).

Kesamaan tersebut diperoleh dari hasil penelusuran di dua laman perpustakaan digital Universitas Atma Jaya dan jurnal ilmiah terakreditasi nasional “LITERA” Universitas Negeri Yogyakarta.

Penelitian Anif yang berjudul “Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya Bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” dipublikasikan saat Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya pada Februari 2003.

Peneletian itu bisa ditemukan pada alamat laman lib.atmajaya.ac.id. Sementara penelitian karya Fathur Rokhman dipublikasikan oleh laman Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya UNY pada tahun 2004. Penelitian tersebut dapat ditelusuri melalui alamat laman https://journal.uny.ac.id/index.php/litera/article/view/6772. Sayangnya, laman tersebut saat dicoba akses oleh tim Jatengpost mengalami kendala pemuatan.

Dugaan plagiat muncul setelah adanya kesamaan dalam isi, hingga hasil dari dua penelitian tersebut sama persis, termasuk data-data pendukungnya. Sementara itu, Rektor Unnes yang dikonfirmasi tidak bersedia memberikan penjelasan.

Ia meminta permasalahan itu dikonfirmasikan ke bagian humas Unnes.

Terpisah, Kepala UPT Humas Unnes Hendi Pratama mengatakan belum ada aduan resmi masyarakat berkaitan dengan masalah itu.

“Kalau memang terjadi hal semacam itu seharusnya sudah ada penyelidikan dari kementerian,” katanya.

Ia menyebut tidak ada tim dari Kementerian Riset Dikti yang datang ke Unnes untuk melakukan investigasi.

Selain itu, ia menilai kesamaan pada dua artikel tidak bisa langsung disebut sebagai plagiarisme.

“Perlu penyelidikan resmi dan itu biasanya butuh waktu lama,” katanya.