Sejarah

Sejarah Perang Diponegoro, Perang Terbesar di Tanah Jawa

Jatengpost.com- Perang Diponegoro merupakan pertempuran tersengit setelah Indonesia memasuki babak baru pasca runtuhnya sistem kerajaan di Nusantara. Perang yang berlangsung selama kurang lebih lima tahun ini tercatat memakan ratusan ribu korban jiwa dan menjadi salah satu peperangan dengan jumlah korban terbanyak di dunia.

Kronologi Terjadinya Perang Diponegoro

Meletusnya Perang Diponegoro terjadi setelah kondisi sosial, ekonomi, dan politik di tanah Jawa semakin memburuk pasca masuknya Belanda di Indonesia. Berbagai kemiskinan, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan dampak dari penjajahan Belanda menjadi faktor utama adanya perlawanan dari rakyat Indonesia (Jawa).

Awal pertempuran di mulai saat pemerintah Belanda mencoba membangun pos-pos strategis kekuatan militer di tanah Jawa untuk melawan pasukan Inggris yang disinyalir akan merangsek ke Indonesia. Untuk membangun kekuatan itu, Belanda membutuhkan fasilitas dan anggaran yang tidak sedikit.

Melalui kekuatan politiknya terhadap kerajaan-kerajaan di Jawa, Belanda mencoba menguasai wilayah dan ekonomi dengan membangun beberapa ruas jalan dan mewajibkan rakyat Indonesia membayar pajak kepada pihak Belanda. Dominasi kekuasaan Belanda semakin menjadi-jadi setelah mereka mencoba melakukan intervensi terhadap Keraton Yogyakarta.

Belanda berhasil mengatur kepemipinan Keraton Yogyakarta yang saat itu dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono V yang saat itu baru berusia tiga tahun. Ia menggantikan pamannya, Sri Sultan Hamengku Buwono kw IV yang meninggal  tidak lama sebelum terjadinya peperangan Diponegoro.

Namun meskipun kepemimpinan Keraton Yogyakarta berada di kekuasaan Sri Sultan Hamengkubowono V, namun dalam prakteknya pemerintah Kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo yang mana ia dikenal tunduk terhadap Belanda.

Perang Diponegoro
Perang Diponegoro

Keadaan semakin memanas setelah Pemerintah Hindia Belanda memasang patok-patok jalan sebagai rencana dari pembangunan jalan. Namun yang menjadi permasalahannya adalah bahwa lintasan jalan yang direncanakan untuk dibangun berada di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro.

Kebijakan tersebut mengakibatkan Diponegoro untuk menyatakan perang terhadap pemerintah kolonial dan kerajaan Yogyakarta. Diponegoro kemudian membentuk suatu pemerintahan sendiri di daerah Selarong.

Diponegoro kemudian mengangkat dua penasehat. Kyai Mojo kemudian diangkat oleh Diponegoro menjadi pensehat Agama, Kyai Mojo merupakan ulama terkenal di Pulau Jawa, akibat bergabungnya Kyai Mojo. Banyak dukungan dari kalangan petani untuk bergabung ke dalam pihak Diponegoro.

Sentot Ali Baharsyah Prawiradirja kemudian diangkat menjadi penasihat Militer. Sentot dengan kemampuannya mempunyai pasukan untuk membantu peperangan. Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa pasukan Sentot Ali merupakan tentara bayaran.

Strategi Jitu Pangeran Diponegoro Berhasil Membuat Pasukan Belanda Kewalahan

Pada tanggal 20 Juli 1825, meriam Belanda meletus di Tegalrejo. Perang Diponegoro pun dimulai. Karena Tegalrejo diserbu tentara Belanda, Diponegoro dan para pengikutnya menyingkir ke Selarong, di sebelah barat Yogyakarta. Selanjutnya tempat ini dijadikan markas kedudukan.

Ada beberapa strategi perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro dalam mengumpulkan kekuatan, diantaranya:

  • Mengambil Goa Selarong sebagai markas dan melaksanakan perang gerilya
  • Merekrut banyak tentara dari kalangan petani dan menyerukan perang Jihad Fisabilillah
  • Melakukan pendekatan kepada masyarakat jawa bahwa Diponegoro merupakan Herucokro (Ratu Adil) yang akan memberikan kebebasan kepada masyarakat jawa.

Pasukan Diponegoro mengalami kemenangan dalam beberapa pertempuran melawan koalisi Belanda dan Kerajaan Yogyakarta. Seperti kemenangan pada tanggal 6 Agustus 1825, Pacitan dapat direbut; dan 22 hari kemudian giliran Purwodadi yang direbut. Hal ini karena besarnya dukungan masyarakat jawa terhadap Diponegoro.

Belanda di Prambanan dan Plered dapat dipukul mundur. Pertempuran sengit antara lain terjadi di daerah Kedu, yakni di Desa Dinoyo. Pasukan Diponegoro menghadapi lawan yang cukup besar jumlahnya, yakni sekitar 2.000 orang. Dengan keberanian yang luar biasa, pasukan Belanda dapat didesak mundur.

Strategi Belanda Untuk Melemahkan Perlawanan Pangeran Diponegoro

Merasa kewalahan dalam medan perang, pemerintah Belanda mencoba mencari strategi lain untuk melemahkan perlawanan Pangeran Diponegoro yang mendapatkan dukungan begitu kuat dari rakyat. Salah atu straregi Belanda ialah dengan mengangkat kembali Hamengku Buwono II sebagai sultan untuk menandingi kewibaaan Pengran Diponegoro di mata rakyat, dan berharap rakyat tidak simpati lagi dengannya. Namun strategi ini tanpa hasil, karena pemimpin ini sudah tidak berwibawa lagi di mata rakyat.

 

Mengingat usahanya sia-sia, pada tahun 1827 pihak Belanda akhirnya melakukan strategi lain dengan membangun berbagai benteng di tanah jawa sebagai pertahanan, dan menambah 3000 prajurit dari Belanda sebagai penambah kekuatan penyerangan.

Siasat ini ternyata terbukti efektif, sehingga kegiatan pasukan Diponegoro dapat dibatasi antara Kali Progo dan Bogowonto. Gerakan pasukan Pangeran Dipongoro pun semakin sempit, komunikasi antar kelompok semakin dipersulit, sehingga timbulan persoalan internal dalam kelompok Pangeran Diponegoro.

Melemahnya kekuatan Pasukan Pangeran Diponegoro

Perpecahan terjadi dalam internal kubu Diponegoro. Sentot Ali tidak setuju dengan serangkaian perang gerilya dilakukan pasukan, selain itu Kyai Mojo mempermasalahkan mengenai pengangkatan Diponegoro sebagai Ratu Adil, Kyai Mojo tidak suka dengan cara tersebut untuk melakukan perekrutan tentara di Jawa Tengah.

Di sisi lain terjadi pengkhianatan dari Sentot ali yang berpaling ke kubu Pemerintah Kolonial dengan tawaran uang dan kemudian menarik pasukannya untuk bersiap dikirim melakukan perlawanan di Aceh.

Karena ruang geraknya yang sudah terhempit. Akhirnya Diponegoro mau untuk diajak berunding dan keluar dari tempat persembunyiannya.  Alih-alih berunding, justru Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. penangkapan Pangeran Diponegoro diprakarsai oleh Letnan Jenderal de Kock pada 28 Maret 1830.

Pangeran Diponegoro kemudian diasingkan ke Makassar, Sulawesi, dimana ia menjalani sisa hidupnya disana sampai kematiannya pada tahun 1855