Sosial

Soal Statmen Poligami Bukan Ajaran Islam, MUI Sebut Itu Bentuk Penyesatan

Soal Statmen Poligami Bukan Ajaran Islam, MUI Sebut Itu Bentuk Penyesatan

Jatengpost.com – Menanggapi statmen dari salah seorang anggota Komisi Nasional Perempuan yang menyebut praktik poligami bukan ajaran Islam. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menyayangkan pernyataan  tersebut.

Menurut Abbas, pernyataan demikian sejatinya tidak berdasar dan menyesatkan. Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia, Abbas menyebutkan jika pernyataan dari anggota Komisi Nasional Perempuan tidak berdasar dan menyesatkan.

“Tidak berdasar dan menyesatkan,” ujar Anwar Abbas

Pernyataan Abbas merupakan bentuk respons dari statmen anggota Komnas Perempuan, Imam Nahe’i yang menyatakan bahwa poligami bukan ajaran Islam. Hal itu disampaikannya dalam diskusi ‘Perempuan dan Politik: Bisakah Poligami Di Indonesia Dilarang?’ yang diinisiasi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) di Gado-Gado Boplo, Satrio, Jakarta, Sabtu (15/12).

“Saya berkeyakinan poligami bukan ajaran Islam. Jauh sebelum Islam datang itu praktik poligami sudah dilakukan. Artinya dengan menyebut poligami ajaran Islam itu keliru. Kemudian Islam datang dan ada ayat poligami itu dalam konteks apa, memerintahkan atau mengatur,” kata Imam.

MUI Sebut Cara Pandang Anggota Komnas Perempuan

Menurut Anwar Abbas, jika cara pandang itu diuji secara empiris dengan kenyataan yang ada dalam masa-masa awal islam, kata dia, maka nabi Muhammad beserta Umar bin khattab dan sahabat-sahabat telah keluar dari ketentuan ajaran islam.

“Artinya jika demikian, Nabi Muhammad telah keluar dari ajaran yang ia sendiri sampaikan kepada umat,” kata Abbas. Anwar menegaskan, Islam membolehkan poligami, jika orang yang bersangkutan bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya.

Senada, Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa poligami adalah salah satu di antara syariat Islam. Menurutnya, banyak ditemukan dalil atau hujah baik dalam Al-Quran maupun Hadis yang membolehkan seorang muslim melakukan poligami.

“Saat ini negara Islam yang mengharamkan poligami salah satunya di Maroko. Sementara sebagian besar negara Islam lainnya memperbolehkan praktik poligami, termasuk Mesir,” ujarnya.

Di Indonesia, sambungnya, poligami telah sesuai dengan ketentuan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 4 ayat (1) poligami dapat dilakukan dengan beberapa persayaratan.

“Persyaratan antara lain mendapat ijin dari Pengadilan Agama yang dikuatkan oleh persetujuan dari istri atau istri-istrinya, memiliki jaminan kemampuan memberikan nafkah kepada keluarganya dan kewajiban berlaku adil kepada istri-istri dan anak-anaknya,” tutup Zainut.