Opini

Wafatnya Bayi Debora, Potret Tragis Keluarga Miskin di Indonesia

Kisah haru pilu baru saja membuat mata ibu pertiwi menetes ke tanah Indonesia. Sebuah kisah yang seharusnya tidak pernah terjadi di negara yang sudah puluhan tahun merdeka ini. Kisah yang menguatkan sebuah idiom jika orang miskin dilarang sakit.

Awan kelabu masih terlihat mengiringi langkah Henny Silalahi, perempuan paruh baya yang baru saja ditinggal buah hatinya tercinta, Deborah Simanjorang.

Kepergian Deborah Simanjorang menambah daftar kelam penanganan kesehatan di Indonesia. Henny Silalahi menceritakan, sebagaimana dilansir di laman liputan6.com, jika Henny Silalahi sangat kecewa dengan pihak rumah sakit Mitra Keluarga Kalideres, Tangerang.

Kisah bermula ketika tanggal 3 September dinihari sekitar pukul 03.00, Deborah tiba-tiba mengalami sesak nafas hebat. Tanpa fikir panjang Henny Silalahi dan suami membawanya ke rumah sakit, namun saat itu ia belum sempat mengetahui apakah rumah sakit yang ia tuju menerima layanan BPJS atau tidak.

Orang tua Deborah masih terlihat sedih dan kecewa kepada pihak rumah sakit (detik.net.id)

Yang ada di pikirannya saat itu ialah bagaimana Deborah bisa mendapatkan penanganan dengan cepat. Sesampainya di rumah sakit, Deborah langsung dilarikan ke ruangan UDG, dan sempat mendapatkan perawatan dari seorang dokter.

Dokter kemudian mengatakan, Deborah harus dimasukkan ke ruang PICU (Perinatology Intensive Care Unit). Henny pun menyetujuinya, namun ternyata biaya yang harus dikeluarkan Henny Silalahi untuk mengobati anaknya di ruang PICU tidaklah sedikit, ia harus merogoh kocek sebesar 19 juta rupiah.

Untuk mendapatkan penanganan di PICU, minimal pihak keluarga memberikan uang DP sebesar 50% dari total pembiayaan atau sekitar 11 juta.

Namun saat itu Henny dan suami hanya memegang uang sebesar 7 juta rupiah, itupun sudah dipakai untuk biaya administrasi, ambil darah, dan rentetan prosedur lainnya. Sisa uang Henny tinggal Rp 5 juta.

Dengan sisa uang 5 juta, akhirnya Deborah harus ditunda mendapatkan penanganan di ruang PICU. Tidak mau menunggu berlarut-larut, Hennyi pun memohon kepada pihak rumah sakit agar Deborah mendapatkan penanganan terlebih dahulu, dan ia berjanji akan segera melunasi pembayarannya.

“Saya sudah bersimpuh, dan berjanji akan mengasih kekurangan itu. Mereka tetap bilang enggak bisa. Saya bilang ke mereka, saya pasti bayar. Saya bekerja, kok, tidak mungkin tidak dibayar,” kata Henny sembari mengusap air matanya saat diwawancarai wartawan.

Namun sepertinya pihak rumah sakit tetap teguh dengan pendiriannya, yaitu pasien minimal membayar 50% dari total pembayaran agar bisa mendapatkan penanganan.

Tidak mau tinggal diam, sang suami pun pulang ke rumah untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan uang untuk menambah kekurangan uang DP perawatann Deborah. Sembari menunggu suami, berkali-kali Henny coba membujuk pihak rumah sakit, namun hal itu sia-sia.

Hingga tangis Henny pecah setelah menyaksikan Deborah sudah terbujur kaku sebelum mendapatkan perawatan yang berarti di rumah sakit tersebut.

“Saya sedih. Saya mengangkat jenazah anak sendiri, sedangkan respons dokter hanya seperti itu. Ia cuma bilang turut berbelasungkawa, kemudian kembali duduk ke meja kerjanya,” kata Henny lagi.

Miris memang, Deborah tidak bisa diselamatkan hanya gara-gara pembiayaan yang belum diselesaikan. Cerita Henny ini pertama kali beredar dari akun Facebok Sanji Ono yang kemudian menjadi viral. Henny bahkan mengaku siap jika ternyata pihak rumah sakit melaporkan “curahan hati” dia karena dianggap mencemarkan nama baik.